Bulan
Sya’ban yang disebut oleh Nabi dengan bulan Yaghfulun Naas artinya bulan yang
dilalaikan oleh kebanyakan manusia, karena bulan ini berada diantara bulan Rajab
dan Ramadhan, telah meninggalkan kita, dan kini bulan Ramadhan tiba
yaitu bulan yang disukai oleh seluruh kaum muslimin tak terkecuali anak-anak,
dewasa, tua dan bahkan yang lansia. Karena bulan ini ditengarai sebagai bulan
keberkahan hidup bagi yang meyakininya.
Diantara puasa sunnah di bulan Sya’ban. Imam Ash-Shan’ani berkata: Hadits ini
menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mengistimewakan bulan Sya’ban dengan puasa
sunnah lebih banyak dari bulan lainnya. (Subulus Salam Syarh Bulughul Maram,
2/239)
Maksud berpuasa dua bulan berturut-turut di sini adalah berpuasa sunah pada sebagian besar bulan Sya’ban (sampai 27 atau 28 hari) lalu berhenti puasa sehari atau dua hari sebelum bulan Ramadhan, baru dilanjutkan dengan puasa wajib Ramadhan selama satu bulan penuh. Hal ini selaras dengan hadits Aisyah yang telah ditulis di awal artikel ini, juga selaras dengan dalil-dalil lain seperti:
Dari Aisyah ra berkata: “Aku tidak pernah melihat beliau SAW lebih banyak berpuasa sunah daripada bulan Sya’ban. Beliau berpuasa di bulan Sya’ban seluruh harinya, yaitu beliau berpuasa satu bulan Sya’ban kecuali sedikit (beberapa) hari.” (HR. Muslim:1156 dan Ibnu Majah:1710)
Mengutip
persamaan peribahasa dan bukan hadits. Abu Bakar Al-Balkhi berkata: “Bulan
Rajab adalah bulan menanam. Bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman. Dan
bulan Ramadhan adalah bulan memanen hasil tanaman.” Beliau juga berkata: “Bulan
Rajab itu bagaikan angin. Bulan Sya’ban itu bagaikan awan. Dan bulan Ramadhan
itu bagaikan hujan.”
Akan
tetapi kesunnahan ini dibatasi oleh hadits
Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah salah
seorang di antara kalian mendahului puasa Ramadhan dengan puasa (sunah) sehari
atau dua hari sebelumnya, kecuali jika seseorang telah biasa berpuasa sunnah (misalnya
puasa Senin-Kamis atau puasa Dawud—pent) maka silahkan ia berpuasa pada hari
tersebut.” (HR. Bukhari:1914 dan Muslim:1082)
Ramadhan Tiba
Kini
Ramadhan tahun ini telah tiba, kaum muslimin di seluruh pelosok sangat
bergembira menyambutnya, karena bulan ini termasuk bulan ke 9 dari 12 bulan
hijriyah dan memiliki arti spesial pada bulannya, dan menjadi super spesial
orang-orang yang mendapatkan bulan ini dengan segala perencanaan yang luar
biasa untuk selalu menghidupkan hari-harinya, kata orang bijak tiada hari
tanpa kebaikan!
Di
bulan Ramadhan kita dianjurkan untuk memperbanyak amalan sunah seperti membaca
Al-Qur’an, berdzikir, beristighfar, shalat tahajud dan witir, shalat dhuha, dan
shadaqah. Untuk mampu melakukan hal itu semua dengan ringan dan istiqamah, dn
sungguh-sungguh sebagai ladang tanaman
iman dan amal shalih yang kontinyuitas, maka akan membuahkan taqwa yang
sebenarnya.
Persiapan Menyambut Ramadhan
Untuk
menyambut bukan yang muia dan barakah ini, Rasulullah SAW menyambutkan dengan
ucapan Marhaban Yaa Ramadhan” yang berbeda ungkapan ketika
menyambut kedatangan seserang yaitu Ahlan Wasahlan” hal ini menunjukan
bahwa kehadiran Ramadhan disambut dengan kesukaan dan kegembiraan oleh segenap
kaum muslimin. Lalu apa yang akan kita persiapkan untuk menyambut tamu Agung
ini? Ikuti ulasannya;
1. Persipkan Ilmu
Mempersipakan
diri dengan ilmu pengetahuan terkait ibadah yang akan dilakukannya, akan
melahirkan keseriusan dan kesungguhan dalam menjalankannya, karena melakukan
berdasarkan ilmu yang telah dipersiapkan dan tahu akan konsekuensinya, jika
ternyata melaakukan tidak sesuai dengan ilmu yang dipahaminya. Misalnya; Mempelajari
hukum-hukum fiqih puasa Ramadhan secara lengkap, minimal dengan membaca bab
puasa dalam (terjemahan) kitab Minhajul Muslim (syaikh Abu Bakar Jabir
Al-Jazairi) atau Fiqih Sunnah (syaikh Sayid Sabiq) atau Shahih Fiqih Sunnah
(Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayid Salim) atau pedoman puasa (Tengku Moh.
Hasbi Ash-Shidiqi) atau buku lainnya.
Demikian
juga halnya mempelajari rahasia-rahasia, hikmah-hikmah, dan amalan-amalan yang
dianjurkan atau harus dilaksanakan di bulan Ramadhan, dengan membaca buku-buku
yang membahas hal itu. Misal (terjemahan) Mukhtashar Minhjaul
Qashidin (Ibnu Qudamah Al-Maqdisi) atau Mau’izhatul
Mu’minin (Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi) atau buku-buku dan
artikel-artikel para ulama lainnya.
Di samping
itu dan tidak kalah penting untuk dipahami adalah mempelajari tafsir ayat-ayat
hukum yang berkenaan dengan puasa, misalnya dengan membaca (terjemahan) Tafsir
Al-Qur’an Al-‘Adzim (Ibnu Katsir), atau Tafsir Al-Jami’ li-Ahkamil
Qur’an (Al-Qurthubi), atau Tafsir Adhwa-ul
Bayan (Asy-Syinqithi).
Untuk
menyelaraskan ilmu dan adab dlam beribadah maka sangat dianjurkan sekali mempelajari
buku-buku yang mebahas tentang akhlak supaya dapat membantu menyiapkan jiwa
untuk menyambut bulan Ramadhan.
Sebagai
langkah alternative dari persiapan di atas, dapat juga beraktifitas dengan mendengar
ceramah-ceramah para ustadz/ulama yang membahas persiapan menyambut dan mengisi
bulan suci Ramadhan.
Mengulang-ulang
hafalan Al-Qur’an sebagai persiapan bacaan dalam shalat Tarawih, baik bagi
calon imam maupun orang yang shalat tarawih sendirian di akhir malam (tidak
berjama’ah ba’da Isya’ di masjid).
Mendengarkan
bacaan murattal shalat tarawih para imam masjid yang terkenal keahliannya di
bidang tajwid, hafalan, dan kelancaran bacaan.
2. Persiapan Iman
Sarana yang
perlu dipersiapkan adalah kekuatan iman dalam jiwa dan diri, agar ibadah yang
akan dijalankan lebih mudah, ringan dan ceria. Salah satunya dengan bertaubat,
maka segera bertaubat dari semua dosa dengan menyesali dosa-dosa yang telah
lalu, meninggalkan perbuatan dosa tersebut saat ini juga, dan bertekad bulat
untuk tidak akan mengulanginya kembali pada masa yang akan datang.
3. Mempersiapkan diri baca al-Qur’an
Salah satu
cara menyambut Ramadhan, dengan mengakrabkan diri dengan Al-Qur’an dengan cara
membaca lebih dari satu juz per hari, ditambah membaca buku-buku tafsir dan
melakukan tadabbur Al-Qur’an. Meresapi kelezatan shalat malam dengan melakukan
minimal dua rakaat tahajud dan satu rekaat witir di akhir malam. Demikian pula
dengan meresapi kelezatan dzikir dengan menjaga dzikir setelah shalat, dzikir
pagi dan petang, dan dzikir-dzikir rutin lainnya.
Menyiapkan diri
untuk mengikuti kultum, ceramah-ceramah, dan pengajian-pengajian yang diadakan
di sekitar kita (lingkungan masjid, tempat kerja, tempat belajar-mengajar) baik
sebagai pemateri atau peserta sebagai bentuk persiapan dan pembiasaan diri
untuk mengikuti kegiatan serupa di bulan Ramadhan.
4. Persiapan Keluarga
Yang tidak
kalah pentingnya adalah mempersiapkan diri untuk mengatur segala sesuatunya
dibulan ramadhan, suapaya aktifitasnya relevan dengan bulan ramadhan. Menyiapkan
anak-anak dan istri untuk menyambut kedatangan Ramadhan dengan mengenalkan
kepada mereka persiapan-persiapan yang telah disebutkan di atas.
Membiasakan
mereka untuk menjaga shalat lima waktu, shalat sunnah Rawatib, shalat dhuha,
shalat malam (tahajud dan witir), dan membaca Al-Qur’an.
Memberikan
taushiyah /kultum harian jika memungkinkan.
Meminimalkan
hal-hal yang melalaikan mereka dari amal shalih di bulan Ramadhan, seperti
musik-musik dan lagu-lagu jahiliyah, menonton TV, dan kegiatan-kegiatan lain
yang tidak membawa manfaat di dunia dan akhirat.
Menyisihkan
sebagian pendapatan untuk sedekah di bulan ini dan bulan Ramadhan.
5. Persiapan Mental
Menyiapkan
tekad yang kuat dan sungguh-sungguh untuk:
Membuka
lembaran hidup baru dengan Allah SWT, sebuah lembaran putih yang penuh dengan
amal ketaatan dan berisi sedikit amal-amal keburukan
Membuat
hari-hari kita di bulan Ramadhan tidak seperti hari-hari kebiasaan kita di
bulan lain yang penuh dengan kelalaian dan kemaksiatan
Meramaikan
masjid dengan melakukan shalat lima waktu secara berjama’ah di masjid terdekat
dan menghidupkan sunah-sunah ibadah yang telah lama kita tinggalkan, seperti:
bertahan di masjid ba’da Subuh sampai terbitnya matahari untuk dzikir, tilawah
Al-Qur’an, atau belajar-mengajar; hadir di masjid sebelum adzan dikumandangkan;
bersegera ke masjid untuk mendapatkan shaf awal; menunggu kedatangan imam
dengan shalat sunnah dan niat I’tikaf; dst.
Membersihkan
puasa dari hal-hal yang merusak pahalanya, seperti bertengkar, sendau gurau dan
perbuatan-perbuatan iseng yang sekedar untuk mengisi waktu tanpa membawa
manfaat akhirat sedikit pun (main catur, main kartu, nongkrong bareng sambil
menyanyi dan main gitar; dst)
Menjaga dan
membiasakan sikap lapang dada dan pemaaf
Beramal
shalih di bulan Ramadhan dan memulai banyak niat sedari sekarang. Seperti; niat
bertaubat, niat membuka lembaran hidup baru dengan Allah SWT, niat memperbaiki
akhlak, niat berpuasa ikhlas karena Allah SWT semata, niat mengkhatamkan
Al-Qur’an lebih dari sekali, niat shalat tarawih dan witir, niat memperbanyak
amalan sunah, niat mencari ilmu, niat dakwah, niat membantu menolong dan
menyantuni sesama muslim yang membutuhkan, niat memperjuangkan agama Allah,
niat umrah, niat jihad dengan harta, niat I’tikaf; dst)
6. Persiapan Jihad Melawan Hawa Nafsu
Bagian
terakhir ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan esensi puasa, yaitu
mengendalikan hawa nafsu dan ragam jenisnya, termasuk mengekang hawa nafsu dari kebiasaan-kebiasaan
buruk dan keinginan hidup mewah, boros, kikir, dan menikmati makanan-minuman
yang lezat atau pakaian yang baru di bulan Ramadhan
Membiasakan
lisan untuk mengatakan perkataan-perkataan yang baik dan bermanfaat;
mencegahnya dari mengucapkan perkataan-perkataan keji, jorok, menggunjing,
mengadu domba, dan perkataan-perkataan yang tidak membawa manfaat di akhirat
Mencegah
hawa nafsu dari keinginan untuk melampiaskan kemarahan, kesombongan, penyimpangan,
kemaksiatan dan kezaliman
Membiasakan
diri untuk hidup sederhana, ulet, sabar, dan sanggup memikul beban-beban dakwah
dan jihad di jalan Allah SWT
Melakukan
muhasabah (introspeksi) harian dengan membandingkan antara program-program
persiapan di atas dan tingkat keberhasilan pelaksanaannya

Tidak ada komentar: