Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
اللهُ أكْبَرُ اللهُ
أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
اللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا,
وَالحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا, وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا, لَا
اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ اِلَّا اِيَّاهُ ,مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ, وَلَوْ
كَرِهَ الكَافِرُوْنَ, لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ, صَدَقَ
وَعْدَهُ, وَنَصَرَ عَبْدَهُ,
وَهَزَمَ الاَحْزَابَ وَحْدَهُ, لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَر, اللهُ
اَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
Pada
kesempatan khutbah Idul Fitri 1446 H ini, ijinkan saya mengurai tema penting
dan aktual. Sebuah tema yang berusaha memotret kondisi masyarakat kita saat ini
dan kedepannya, yakni "Idul
Fitri dan Kesehatan Mental." Tema ini sangat relevan dengan kondisi umat
saat ini. Idul Fitri bukan hanya perayaan spiritual, namun juga momentum sosial
yang bisa kita maknai untuk memperkuat kesehatan jiwa.
Kesehatan
mental adalah bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam tentang kesehatan
holistik – sehat jasmani dan rohani. Nabi Muhammad saw bersabda: "Ingatlah
bahwa dalam tubuh ada segumpal darah. Apabila ia baik, baiklah seluruh tubuh;
dan apabila ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu
adalah hati" (HR. Bukhari &
Muslim). Hadis ini mengingatkan bahwa kondisi batiniah dan mental kita
sangat mempengaruhi
keseluruhan hidup kita.
Islam sejak awal menaruh perhatian besar pada kondisi psikologis umatnya. Al-Qur'an menggambarkan betapa iman dan dzikir dapat menenteramkan jiwa:
"Ingatlah,
hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang" (QS. Ar-Ra'd [13]: 28).
Ayat ini menekankan dzikrullah sebagai sumber
ketenangan batin di tengah kegelisahan hidup.
Nabi
Muhammad saw sendiri mengajarkan do’a agar dilindungi dari tekanan
mental negatif:
"Ya
Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa sedih dan gelisah, dari kelemahan dan
kemalasan..." (HR. Abu Dawud).
Do’a tersebut menunjukkan bahwa
kesedihan, kecemasan, stress adalah hal yang manusiawi dan Islam mengajarkan
kita memohon pertolongan Allah untuk mengatasinya.
Idul
Fitri membawa semangat kembali ke fitrah, artinya kembali pada kesucian jiwa
dan ketenangan hati setelah ditempa puasa. Pada hari ini, kita disunnahkan untuk
saling berma’afan,
memulihkan menjalin hubungan
sosial (silaturahim), dan berbagi
kebahagiaan terutama kepada fakir miskin melalui zakat fitrah dan shadaqah.
Tahukah kita? Semua amalan ini memiliki hikmah psikologis yang besar:
mema’afkan
orang lain melegakan beban emosi dan menghilangkan dendam, silaturahim mengusir
kesepian dan menguatkan dukungan sosial, shadaqah menumbuhkan empati dan
kebahagiaan batin baik bagi pemberi maupun penerima.
Rasulullah
saw bersabda, "Senyummu kepada saudaramu adalah shadaqah" (HR. Tirmidzi). Senyum dan kebaikan
pada sesama di hari raya akan memupuk rasa kegembiraan kolektif dan
menyehatkan jiwa masyarakat.
Namun di
balik suka cita Idul Fitri, kita tidak boleh menutup mata bahwa banyak saudara
kita mungkin tampil bahagia, tapi di dalam jiwanya menyimpan kegalauan.
Kesehatan mental adalah tantangan nyata bagi umat hari ini. karena itu,
marilah di sisa waktu khutbah ini kita renungkan berbagai aspek kesehatan
mental dalam konteks kehidupan kita saat ini, meliputi dampak ekonomi, sosial,
hingga pengaruh media sosial terhadap kesehatan jiwa kita.
Hadirin
yang dimuliakan Allah SWT, aspek ekonomi sangat mempengaruhi kondisi mental
seseorang. Kondisi ekonomi yang sulit – seperti pengangguran, kemiskinan, atau
himpitan utang – dapat menjadi stressors berat dan dapat memicu kecemasan dan depresi.
Dalam
Islam, kita diajarkan untuk bertawakal atas rezeki dari Allah dan selalu
berikhtiar halal. Rasulullah SAW bersabda, "Seandainya kalian
benar-benar bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada
kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung: pergi pagi dalam keadaan
lapar dan pulang petang dalam keadaan kenyang" (HR. Tirmidzi).
Tawakal
dan kerja keras adalah kunci, namun Islam juga memahami kelemahan manusia:
ketika kesulitan ekonomi datang, iman kita diuji agar tetap sabar dan tidak
berputus asa.
Data berikut menunjukkan bahwa gangguan
kesehatan mental bukan hanya masalah individu, tapi juga berdampak luas pada
ekonomi masyarakat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa gangguan
mental menimbulkan beban ekonomi global sekitar 1 triliun Dolar AS per tahun.
Angka ini berasal dari hilangnya produktivitas kerja akibat depresi, kecemasan,
serta biaya perawatan bagi penderita.
Bayangkan,
produktifitas miliaran hari kerja hilang karena pekerja tidak bisa optimal
akibat masalah psikologis. Di Indonesia sendiri, Kementerian Koordinator PMK
mengungkapkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang memperkirakan
kerugian ekonomi akibat gangguan jiwa di negeri kita mencapai Rp20 triliun per
tahun. Ini termasuk biaya pengobatan dan kehilangan produktivitas masyarakat.
Sungguh dampak yang luar biasa besar!
Selain
dampak ekonomi makro, secara mikro kesulitan ekonomi rumah tangga menekan
kesehatan mental keluarga. Survei pada masa pandemi COVID-19 lalu memberikan
pelajaran berharga: tekanan ekonomi seperti kehilangan pekerjaan atau
berkurangnya penghasilan memicu konflik rumah tangga dan bahkan sampai pada
tahap perceraian.
Banyak orang tua yang stress karena sulit memenuhi kebutuhan, sementara
anak-anak merasakan kecemasan melihat orang tuanya kesulitan. Semua ini menunjukkan
bahwa kestabilan ekonomi dan kesehatan mental saling terkait erat.
Islam
menawarkan solusi dengan konsep ta'awun (tolong-menolong) ekonomi:
zakat, infaq, dan
shadaqah menjadi instrumen pemerataan agar jurang si kaya dan si miskin tidak
terlalu lebar yang bisa melahirkan tekanan psikologis sosial.
Zakat
Fitrah yang baru saja kita tunaikan sebelum shalat Ied adalah contoh nyata: agar
saudara-saudara miskin bisa ikut bergembira di hari raya dan tidak larut dalam
kesedihan karena himpitan kebutuhan. Spirit kepedulian ini menyehatkan jiwa –
bagi penerima, bantuan tersebut meringankan beban pikirannya, dan bagi kita
yang memberi, tumbuh rasa bermakna dan bahagia. Kajian psikologi modern-pun
mengiyakan, bahwa berbagi dan berderma terbukti meningkatkan kebahagiaan dan
menurunkan stres karena kita merasakan purpose dalam hidup.
Maka, di
hari Idul Fitri ini marilah kita teguhkan solidaritas ekonomi. Jika ada
keluarga atau tetangga yang kesulitan, ulurkan bantuan. Minimal, berilah ucapan
dan do’a penguat
agar mereka tidak merasa sendiri. Allah SWT berjanji;
"Barangsiapa
bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan memberinya jalan keluar, dan memberinya
rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka" (QS. Ath-Thalaq [65]:2-3).
Ayat tersebut
mengajarkan kita optimisme bahwa jalan keluar selalu ada, sehingga jangan
biarkan himpitan ekonomi membuat kita putus asa. Tetaplah berusaha, berdo’a, dan bantuan, dukungan dari sesama Muslim.
Jama’ah
Idul Fitri Rahimakumullah!
Manusia
adalah makhluk sosial. Kesehatan mental kita sangat dipengaruhi oleh interaksi
sosial dan lingkungan di sekitarnya. Keluarga yang harmonis,
sahabat yang peduli, dan masyarakat yang suportif adalah benteng kekokohan bagi kesehatan jiwa. Sebaliknya,
kesepian, isolasi, konflik sosial, atau stigma akan memperburuk kondisi mental.
Pengalaman
pandemi kemarin memberi pelajaran betapa berartinya interaksi sosial bagi
mental. Ketika penerapan karantina dan physical distancing, banyak orang
merasa terasing dan cemas. Pejabat Kemenkes RI menyatakan di masa pandemi
menyebar perasaan kecemasan, ketakutan, dan tekanan mental akibat isolasi,
pembatasan fisik, dan ketidakpastian. Sebuah survei oleh Perhimpunan Dokter
Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) menunjukkan 68% responden
mengalami masalah psikologis selama pandemi. Mayoritas, yaitu 67% lebih,
merasakan gejala kecemasan dan depresi. Bahkan hampir setengah dari mereka yang
depresi (48%) sempat berpikir ingin mati atau menyakiti diri – na'udzubillah!
Hal
tersebut mengindikasikan betapa beratnya beban mental akibat kesendirian dan
tekanan hidup selama krisis kemarin. Sebanyak 74% responden juga mengalami
gejala trauma psikologis seperti waspada berlebihan, merasa sendirian dan
terisolasi. Kita bersyukur, perlahan kehidupan sosial telah normal kembali,
namun data tadi menjadi pengingat bahwa dukungan sosial sangat krusial.
Dalam
ajaran Islam, ukhuwah (persaudaraan) dan silaturahim bukan sekadar
akhlak mulia, tapi juga kebutuhan psikologis. Nabi saw bersabda: "Perumpamaan
kaum mukminin dalam saling mencintai dan mengasihi adalah seperti satu tubuh;
jika satu anggota tubuh sakit, yang lain turut merasakan sakitnya dengan demam
dan tidak bisa tidur" (HR.
Bukhari-Muslim).
Hadis tersebut
menekankan konsep empati kolektif – jika ada saudara yang menderita secara
mental, lingkungan sekitarnya perlu peduli. Stigma terhadap penderita gangguan
jiwa harus kita hilangkan. Jangan ada lagi anggapan bahwa depresi atau cemas
hanyalah kurang iman.
Memang
iman dan ibadah adalah terapi utama, namun ingatlah bahwa manusia juga
butuh support system dari sesamanya. WHO mencatat bahwa remaja dengan
gangguan mental sangat rentan mengalami penolakan sosial, diskriminasi, dan
stigma, yang justru membuat mereka enggan mencari pertolongan dan memperburuk
masalah.
Oleh
karena itu, mari kita ciptakan iklim sosial yang terbuka dan menerima. Jika ada
anggota keluarga atau teman yang menunjukkan gejala depresi, jangan dihakimi,
tapi rangkul dan dengarkan mereka.
Idul
Fitri adalah momen tepat memperbaiki hubungan sosial. Setelah shalat Id, tradisi kita adalah
saling berkunjung, berma’afan, dan berkumpul dengan
keluarga besar. Ini bukan sekadar tradisi tanpa makna – justru inilah obat
sosial bagi jiwa-jiwa yang lelah.
Silaturahmi
menghilangkan rasa sepi, menguatkan rasa memiliki (sense of belonging),
dan memberikan dukungan emosional. Seseorang yang awalnya hampir putus asa bisa
bangkit lagi semangatnya ketika bertemu saudara dan mendengar kata-kata
dukungan. Jadi, marilah kita hidupkan kembali semangat kebersamaan pasca
Ramadhan ini. Jangan biarkan ada yang terisolasi. Tengok tetangga yang mungkin
tinggal sendiri, kunjungi kawan yang baru kehilangan, eratkan kembali tali
keluarga yang mungkin kemarin sempat renggang.
Rasulullah
saw mengingatkan, "Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali
silaturahim" (HR. Bukhari).
Hadis tersebut
sekaligus sebagai pesan
spiritual dan psikologis: memutus hubungan hanya akan membawa pada kesengsaraan, sedangkan menyambung kasih
sayang membawa berkah dan kesehatan jiwa.
Hadirin
yang bijak dalam memanfaatkan waktu, tidak dapat kita pungkiri bahwa di era
sekarang media sosial telah menjadi bagian besar dari kehidupan. Dari anak-anak
hingga dewasa, banyak yang menghabiskan waktu berjam-jam di gawai untuk
scrolling media sosial seperti Facebook, Instagram, TikTok, Twitter, dan
lain-lain. Media sosial bak pisau bermata dua: ada manfaatnya dalam menyebarkan
silaturahim dan informasi, namun tidak sedikit mudaratnya bagi
kesehatan mental jika digunakan secara berlebihan atau tanpa bijak.
Statistik
menunjukkan betapa intensnya penggunaan media sosial, khususnya di Indonesia.
Rata-rata penduduk Indonesia menghabiskan sekitar 3 jam per hari di media
sosial, bahkan termasuk peringkat tertinggi di dunia dan jauh di atas rata-rata
global.
Bagi
kalangan remaja, media sosial sudah seperti ruang berkumpul utama mereka.
Namun, apa
dampaknya terhadap jiwa? Penelitian-penelitian psikologi belakangan ini memberi
peringatan keras. Sebuah studi yang dikutip Fakultas Psikologi UNAIR menemukan
bahwa remaja yang menggunakan media sosial lebih dari 3 jam per hari memiliki
risiko tinggi mengalami masalah kesehatan mental. Waktu penggunaan yang
berlebihan dikaitkan dengan peningkatan gejala depresi dan kecemasan pada
remaja. Hal ini terutama disebabkan oleh fenomena perbandingan sosial dan
cyberbullying di dunia maya.
Remaja
yang tiap hari melihat postingan kehidupan orang lain yang tampak “sempurna”
dapat merasa rendah diri dan kurang berharga, apalagi jika mereka menjadi
korban ejekan atau perundungan daring. Penelitian Primack et al. (2017)
misalnya, menunjukkan kaitan kuat antara intensitas penggunaan media sosial
dengan meningkatnya depresi pada anak muda, sebagian besar akibat membandingkan
diri dengan orang lain di internet. Bahkan 46% remaja dalam sebuah survei di
Amerika mengaku media sosial membuat mereka merasa lebih buruk tentang citra
tubuh mereka.
Media
sosial juga kerap menjadi ajang hoaks dan kabar negatif yang dapat memicu
kepanikan dan emosi negatif berantai. Berapa banyak dari kita yang merasa mood
terganggu setelah membaca komentar pedas atau berita buruk di timeline? Kecanduan terhadap media sosial pun nyata adanya:
setiap notifikasi dan like memberikan dopamin sesaat yang membuat kita
ketagihan, tapi jangka panjang mengikis kemampuan kita menikmati hal-hal
sederhana.
Ironisnya,
media sosial yang dimaksudkan untuk “sosial” justru bisa membuat orang
anti-sosial di dunia nyata dan merasa kesepian. Berjam-jam menatap layar bisa
mengurangi waktu berinteraksi langsung dengan keluarga di rumah. Padahal, studi
menunjukkan mereka yang mengurangi penggunaan media sosial cenderung lebih
bahagia dan kurang depresi dibanding yang terus-menerus online.
Lantas,
bagaimana Islam memandu kita dalam hal ini? Islam mengajarkan prinsip wasathiyyah
(moderasi) dalam segala hal. Waktu adalah amanah Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Menghabiskan waktu yang berlebihan di media sosial tanpa manfaat jelas akan merugikan, apalagi jika sampai
melalaikan ibadah dan kewajiban. Al-Qur’an mengingatkan:
"Demi
masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali orang-orang beriman, beramal
shalih, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran" (QS. Al-'Ashr [103]: 1-3).
Ayat tersebut
memberikan nasehat pada kita agar tidak menyia-nyiakan
waktu. Gunakan media sosial seperlunya, misalnya untuk silaturahim dengan
kerabat jauh, berdakwah menyebar konten positif, atau mencari pengetahuan.
Hindari tenggelam dalam scroll tanpa tujuan.
Selain
itu, hindarilah ghibah (menggunjing)
dan debat kusir di media sosial yang hanya menambah dosa dan stress. Allah SWT berfirman;
"Wahai
orang-orang beriman, jauhilah banyak dari prasangka... dan janganlah kalian
saling menggunjing satu sama lain" (QS.
Al-Hujurat [49]:12).
Ayat tersebut
sangat relevan di era medsos: jangan mudah berprasangka buruk melihat postingan
orang, dan jangan ikut-ikutan membully atau menyebar aib. Tahan jempol kita
dari menulis komentar kasar. Ingat, yang kita hadapi di balik layar adalah
manusia nyata yang punya perasaan.hal ini implementai dari ayat
160 al-a’raf.
Bagi para
orang tua, mari awasi dan dampingilah penggunaan media sosial anak-anak kita.
Jangan biarkan anak larut di dunia maya tanpa bimbingan. Jadilah teladan dengan
juga membatasi waktu kita di gawai saat bersama keluarga. Ajak anak untuk
melakukan kegiatan offline yang menyenangkan: olahraga, bermain di luar, hobi
kreatif, dan tentu saja ibadah berjamaah. Seperti saran pakar, dukungan sosial
nyata dari keluarga dan teman dapat mengurangi dampak negatif media sosial.
Artinya, jika anak mendapat kenyamanan berkomunikasi dan curhat di dunia nyata,
ia tak akan lari mencari pelarian sepenuhnya ke dunia maya.
Momentum
Idul Fitri ini sangat baik untuk detoks digital sejenak. Saat berkumpul
keluarga, kita taruh HP, kita fokus bercengkerama, menyambung rasa. Toh, semua
“dunia maya” bisa menunggu sehari; yang di depan mata inilah yang lebih
berharga. Manfaatkan momen ini untuk menguatkan kembali hubungan nyata. Setelah
itu, kita bisa membuat resolusi pasca Ramadhan: mengontrol penggunaan medsos
agar lebih proporsional. InsyaAllah, jiwa kita akan lebih tenang dan waktu kita
lebih berkah.
Menjaga Kesehatan Mental Pasca
Ramadan
Jama’ah yang berbahagia, setelah
memahami berbagai tantangan kesehatan mental dari sisi ekonomi, sosial,
pendidikan, dan pengaruh media, kini pertanyaannya: apa yang bisa kita lakukan?
Idul
Fitri menandai kemenangan kita melawan hawa nafsu selama sebulan. Kemenangan
ini perlu kita teruskan dengan menjaga apa yang sudah kita latih di bulan
Ramadan untuk kesehatan mental kita sepanjang tahun. Berikut beberapa langkah
yang bisa kita upayakan bersama:
1. Perkuat
Spiritualitas dan Ibadah – Ramadhan
melatih kita dekat dengan Allah. Lanjutkan kebiasaan baik seperti shalat tepat
waktu, tilawah Quran, dzikir pagi petang. Spiritualitas yang kuat terbukti
memberikan ketangguhan mental. Jiwa yang selalu ingat Allah akan lebih tenang
menghadapi masalah (QS. Ar-Ra'd [13]:
28). Ketika stres melanda, ambil wudhu’ dan shalatlah dua rakaat memohon
petunjuk. Inilah coping mechanism terbaik bagi Muslim.
2. Bina
Hubungan Sosial yang Positif – Teruskan silaturahim tidak hanya di hari raya.
Luangkan waktu rutin bertemu keluarga atau teman. Jadilah pendengar yang baik
bagi kerabat yang curhat masalahnya. Dukungan sosial adalah obat mujarab untuk
depresi. Jangan ragu juga untuk meminta bantuan atau sekadar bercerita kepada
orang yang Anda percayai ketika beban terasa berat. Kita tidak ditakdirkan
memanggul beban sendirian; ada Allah dan ada saudara seiman yang siap menopang.
3. Jaga Pola
Hidup Sehat –
Kesehatan fisik dan mental saling berkaitan. Tetaplah jaga pola makan seimbang
meski lebaran penuh hidangan lezat; jangan berlebihan. Lanjutkan kebiasaan
olahraga ringan yang mungkin sudah mulai saat puasa. Olahraga terbukti melepas
hormon endorfin yang meningkatkan mood. Istirahat yang cukup, jangan balik lagi
ke pola bergadang tak tentu. Tubuh lelah rentan membuat pikiran negatif.
4. Bijak
dalam Pendidikan dan Karier – Untuk para pelajar, hadapi tahun ajaran atau semester baru dengan
semangat seimbang. Kejar prestasi, tapi ingat atur waktu rekreasi. Untuk para
orang tua dan pendidik, ciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan
suportif. Hargai setiap usaha anak, bukan semata hasil. Tekankan pada mereka
bahwa kegagalan bukan akhir dunia, tapi bagian dari proses belajar. Dengan mindset demikian, anak akan tumbuh
tangguh dan tidak mudah stres menghadapi tantangan.
5. Atur
Konsumsi Media dan Informasi – Pasca Ramadhan, mari tetap filter tontonan
dan bacaan kita. Hindari kembali larut dalam hiburan yang tidak bermutu apalagi
merusak jiwa. Sesuaikan lagi penggunaan gadget: kurangi scrolling tak perlu,
perbanyak interaksi di dunia nyata. Jika memungkinkan, tetapkan “puasa media
sosial” berkala, misal sehari dalam seminggu tanpa medsos, untuk menyegarkan
mental kita.
6. Kenali
Batas dan Cari Bantuan Profesional bila Perlu – Islam mengajarkan "laa yukallifullahu
nafsan illa wus'aha" – Allah tidak membebani di luar kesanggupan (QS 2:286).
Jika merasa beban hidup atau
emosi Anda sudah tak tertanggungkan, jangan ragu untuk mencari bantuan
profesional. Berkonsultasilah dengan psikolog atau psikiater. Ini tidak
menunjukkan lemah iman; justru ikhtiar ini bagian dari tawakal dan usaha.
Alhamdulillah, pemerintah melalui Kemenkes telah menyediakan layanan konseling online
maupun di Puskesmas untuk kesehatan jiwa.
Data Riskesdas 2018 menyebut di
Indonesia terdapat lebih dari 19 juta orang usia >15 tahun mengalami
gangguan mental emosional dan 12 juta di antaranya depresi. Jadi Anda tidak
sendirian – banyak orang bergelut dengan ini dan profesi kesehatan siap membantu.
Dalam suatu riwayat, Rasulullah saw pernah didatangi seorang sahabat yang
mengeluhkan sakit (baik fisik maupun mental), Nabi menyarankan untuk berobat
seraya tetap bertawakal. Berobat adalah sunnah, maka tak perlu malu untuk
terapi.
Hadirin
yang dimuliakan Allah SWT, kesehatan mental adalah karunia dan amanah yang
harus kita jaga sebagaimana kesehatan fisik. Idul Fitri ini hendaknya menjadi
titik tolak kita memperhatikan aspek-aspek tadi dalam diri dan keluarga kita.
Jangan biarkan ekonomi sulit memadamkan cahaya harapan kita. Jangan biarkan
kesibukan dan teknologi memisahkan kita dari keluarga dan ketenangan jiwa. Mari
rangkul nilai-nilai Ramadhan: sabar, syukur, empati, dan
disiplin, untuk memperkuat kesehatan mental kita.
Terakhir,
marilah kita berdo’a kepada Allah SWT di hari yang mulia ini.
Ya Allah,
anugerahkanlah kepada kami jiwa yang tenang dan sabar. Jauhkanl kami dari
gundah gulana yang berlarut. Berilah jalan keluar bagi saudara-saudara kami
yang dihimpit kesulitan ekonomi, sembuhkanlah yang sakit jasmani maupun rohani.
Limpahkan kepada kami sakinah (ketenangan), mawaddah wa rahmah dalam keluarga
dan masyarakat kami. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang bersyukur saat lapang,
bersabar saat sempit, dan senantiasa berbaik sangka atas taqdir-Mu.
Semoga
dengan bekal Ramadhan, kita mampu menjalani 11 bulan ke depan dengan mental
yang lebih sehat, iman yang lebih kuat. Taqabbalallahu
minna wa minkum, minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.
Wassalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.

Tidak ada komentar: