Maklumat PP Muhammadiyah dan Tuntunan Shalat Id
Ringkasan
Tuntunan MTT - PPM
Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah
resmi menetapkan bahwa hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1446H jatuh pada hari senin,
31 Maret 2025. Artinya, umat Islam pada hari tersebut dilarang berpuasa, wajib
berbuka dan disunahkan melaksanakan Shalat Ied. Pimpinan
Pusat Muhammadiyah melalui edaran No 01/EDR/I.0/E/2022 membolehkan shalat Idul
Fitri dilaksanakan di lapangan kecil atau tempat terbuka di sekitar tempat
tinggal dalam jumlah jemaah yang tidak membawa kerumunan besar.
Berikut
tata cara shalat Idul Fitri di lapangan terbuka:
1.Jika tidak
ada halangan, shalat Id sebaiknya di lapangan. Berdasarkan hadis riwayat Abu
Sa’id al Hudriy:
كانَ رَسولُ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليه
وسلَّمَ يَخْرُجُ يَومَ الفِطْرِ والأضْحَى إلى المُصَلَّى، فأوَّلُ شَيءٍ
يَبْدَأُ به الصَّلَاةُ، ثُمَّ يَنْصَرِفُ، فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ،
والنَّاسُ جُلُوسٌ علَى صُفُوفِهِمْ، فَيَعِظُهُمْ، ويُوصِيهِمْ، ويَأْمُرُهُمْ،
فإنْ كانَ يُرِيدُ أنْ يَقْطَعَ بَعْثًا قَطَعَهُ، أوْ يَأْمُرَ بشيءٍ أمَرَ به،
ثُمَّ يَنْصَرِفُ
“Bahwa Rasul
SAW keluar pada hari raya idul fitri dan adha ke al-Mushala (tempat shalat di tanah
lapang). Hal pertama yang dilakukan adalah shalat. Setelah selesai beliau
berdiri menghadap para jamaah, sementara mereka duduk bershaf, lalu beliau
memberi nasihat, berwasiat dan memerintah mereka. Apabila beliau hendak
berhenti, maka berhenti dan bila memerintah sesuatu, maka langsung
memerintahkannya, kemudian selesai.” (HR. Bukhari 956).
2. Shalat Idul
Fitri dikerjakan tanpa seruan adzan dan iqamat; Berdasarkan hadis riwayat Jabir
bin ‘Abdullah:
لَمْ يَكُنْ يُؤَذَّنُ يَومَ الفِطْرِ وَلَا يَومَ الأضْحَى،
ثُمَّ سَأَلْتُهُ بَعْدَ حِينٍ عن ذلكَ، فأخْبَرَنِي، قالَ: أَخْبَرَنِي جَابِرُ
بنُ عبدِ اللهِ الأنْصَارِيُّ، أَنْ لا أَذَانَ لِلصَّلَاةِ يَومَ الفِطْرِ حِينَ
يَخْرُجُ الإمَامُ، وَلَا بَعْدَ ما يَخْرُجُ، وَلَا إقَامَةَ، وَلَا نِدَاءَ، وَلَا شَيءَ،
لا نِدَاءَ يَومَئذٍ، وَلَا إقَامَةَ.
“Tidak ada
adzan ketika (shalat) Idul Fitri dan juga idul adha. Lalu setelah sesaat aku
tanyakan masalah itu. Dia memberitahuku bahwa Jabir bin Abdullah al-Anshari
berkata bahwasanya tidak ada adzan untuk shalat idul fitri ketika imam datang
dan tidak pula ada iqamah, tidak ada seruan apapun dan waktu itu tidak ajakan
dan tidak pula iqamah.” (HR. Bukhari 960, Muslim 886).
3. Tidak
disyariatkan shalat sunah, baik sebelum maupun sesudah shalat Idul Fitri.
Berdasarkan Hadis riwayat Ibnu Abbas:
أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ
صَلَّى يَومَ الفِطْرِ رَكعتَيْنِ لمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا
ولَا بَعْدَهَا، ثُمَّ أتَى النِّسَاءَ ومعهُ بلَالٌ، فأمَرَهُنَّ بالصَّدَقَةِ
“Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Nabi SAW shalat
dua rakaat pada hari raya idul fitri. Beliau tidak shalat sebelumnya dan tidak
pula setelahnya. Kemudian beliau mendatangi para wanita bersama Bilal, lalu
memerintah mereka bersedekah.” (HR. Bukhari 984, Muslim 884).
4. Hendaklah
dipasang sutrah (pembatas) di depan imam shalat. Berdasarkan hadis
riwayat Nafi’ dari Ibnu ‘Umar:
أنَّ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه
وسلَّمَ كانَ إذَا خَرَجَ يَومَ العِيدِ أمَرَ بالحَرْبَةِ،
فَتُوضَعُ بيْنَ يَدَيْهِ، فيُصَلِّي إلَيْهَا والنَّاسُ ورَاءَهُ، وكانَ يَفْعَلُ
ذلكَ في السَّفَرِ، فَمِنْ ثَمَّ اتَّخَذَهَا الأُمَرَاءُ.
“Bahwa Rasulullah SAW apabila keluar
pada hari ‘Id, beliau memerintahkan untuk meletakkan tombak di depannya,
kemudian beliau shalat dan orangorang berada di belakangnya, dan ia melakukan
hal tersebut dalam safar (shalat shafar).” (HR. Bukhari 494 Muslim 501).
5. Shalat Idul
Fitri dan Idul Adha dilaksanakan sebanyak 2 rakaat, dengan cara bertakbir tujuh
(7) kali pada rakaat pertama dan lima (5) kali takbir pada rakaat kedua. Dan
tidak ada bacaan-bacaan tertentu yang dituntunkan Nabi SAW di sela-sela
takbir-takbir tersebut. Berdasarkan hadis riwayat Katsiir bin ‘Abdillah:
أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ كبَّر في العيدينِ : في
الأولى سبعًا قبلَ القراءةِ ، وفي الآخرةِ خمسًا قبلَ القراءةِ
“Bahwa Nabi SAW
pada shalat dua hari raya bertakbir tujuh kali untuk rakaat pertama sebelum
membaca (al-fatihah) dan bertakbir lima kali pada rakaat kedua juga sebelum
membacanya.”
(HR. Tirmidzi 492 Ibnu
Majah 1279).
6. Imam shalat
disunnahlan membaca surat al-A’la pada rakaat pertama dan al-Ghasyiyah pada
rakaat kedua atau Qaf wal Quranil Majid (surat Qaf) pada rakaat pertama dan
Iqtarabatis Saa’ah (al-Qamar) pada rakaat kedua. Berdasarkan hadis riwayat Ibnu
‘Abbas: “Dari Ibnu Abbas,
أنَّ
النبيَّ كان يقرأُ في العيدينِ
بـسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى، وهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الغَاشِيَةِ
“bahwasanya
Nabi SAW pada shalat dua hari raya membaca Sabbihisma Rabbiukal A’la dan Hal
Ataku Hadisul Ghasyiyah.” (HR. Ibnu Majah 1273, Muslim 878, Abu
Daud 1122, Tirmidzi 541).
7. Sesudah
mengerjakan shalat, dilanjutkan dengan penyampaian khutbah ‘Id, yang berisikan
nasihat dan anjuran berbuat baik, dimulai dengan alhamdulillah. Berdasarkan
hadis riwayat Abu Sa’id al Khudriy: “Dari Abu Sa’id al-Hudriyi berkata:
كانَ رَسولُ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليه
وسلَّمَ يَخْرُجُ يَومَ الفِطْرِ والأضْحَى إلى المُصَلَّى، فأوَّلُ شَيءٍ
يَبْدَأُ به الصَّلَاةُ، ثُمَّ يَنْصَرِفُ، فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ،
والنَّاسُ جُلُوسٌ علَى صُفُوفِهِمْ، فَيَعِظُهُمْ، ويُوصِيهِمْ، ويَأْمُرُهُمْ،
فإنْ كانَ يُرِيدُ أنْ يَقْطَعَ بَعْثًا قَطَعَهُ، أوْ يَأْمُرَ بشيءٍ أمَرَ به،
ثُمَّ يَنْصَرِفُ
Bahwa Rasul SAW
keluar pada hari raya idul fitri dan adha ke al-Mushala (tanah lapang). Hal
pertama yang dilakukan adalah shalat. Setelah selesai beliau berdiri menghadap
para jamaah, sementara mereka duduk bershaf, lalu beliau memberi nasihat,
berwasiat dan memerintah mereka. Apabila beliau hendak berhenti, maka berhenti
dan bila memerintah sesuatu, maka langsung memerintahkannya, kemudian selesai.” (HR. Bukhari
956).
Amalan-amalan yang disunahkan sebelum dan sesudah menunaikan Shalat Ied di
lapangan terbuka, di antaranya :
- Mandi dan
Menyucikan Diri
Sebelum melaksanakan Shalat Ied hendaknya mandi dan menyucikan diri terlebih dahulu. Jangan lupa untuk berwudhu sebelum berangkat menuju tempat shalat. Terkadang seseorang lupa untuk mengambil air wudhu terutama wanita yang memakai make-up setelah mandi, dikarnakan wudhu adalah salah satu syarat sahnya shalat. - Memakai Pakaian
Terbaik
Saat hendak melaksanakan Shalat Ied, sebaiknya kita menghias diri dan memakai pakaian terbaik. Pria juga dianjurkan untuk memakai wangi-wangian. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim bahwa “Nabi SAW biasa keluar ketika Shalat Idul Fitri dan Idul Adha dengan pakaiannya yang terbaik”.
Dari Hasan bin Ali dari
ayahnya Ali ra berkata
أمرنا رسول الله - صلى الله عليه وآله
وسلم - في العيدين أن نلبس أجود ما نجد ، وأن نتطيب بأجود ما نجد ، وأن نضحي
بأسمن ما نجد
Rasulullahi
shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami pada shalat dua hari raya
untuk mengenakan pakaian terbaik yang kami miliki, memakai parfum terbaik yang
kami miliki, dan berkurban dengan hewan paling gemuk yang kami miliki,” (HR. Hakim 7634)
- Makan Sebelum Shalat
Idul Fitri
Sebelum melaksanakan Shalat Ied, dianjurkan untuk makan di pagi hari dan hal inilah yang membedakan Shalat Idul Fitri dengan Shalat Idul Adha di mana saat sebelum Shalat Idul Adha kita tidak dianjurkan untuk makan. Hal ini dimaksudkan bahwa pada hari Raya Idul Fitri umat Islam tidak lagi melakukan ibadah puasa seperti sebelumnya pada bulan Ramadan. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى
حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ
“Rasulullah SAW biasa
berangkat Shalat Ied pada hari Idul Fitri dan beliau makan terlebih dahulu.
Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah
pulang dari Shalat Ied baru beliau menyantap hasil qurbannya.” (HR. Ahmad 21907,
Timirdzi 497, IbnuMajah 1746)
- Berjalan kaki dan
melewati jalan yang berlainan
Yang dimaksud dengan menempuh jalan yang berlainan adalah saat pergi dan pulang shalat Idul Fitri hendaknya kita melewati jalan yang berbeda hal ini dimaksudkan supaya saat pergi maupun pulang kita lebih banyak bertemu dengan orang-orang yang juga melaksanakan shalat Ied dan saling bersilaturahmi. Pergi menuju tempat shalat Ied juga dianjurkan untuk berjalan kaki daripada menggunakan kendaraan kecuali jika ada halangan atau hajat. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Jabir :
كانَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ
إذَا كانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ
“Nabi SAW ketika shalat ‘ied, beliau lewat jalan yang
berbeda ketika berangkat dan pulang.” (HR Bukhari 986)
Dan juga hadis yang
diriwayatkan oleh Ibnu Umar:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
يَخْرُجُ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَيَرْجِعُ مَاشِيًا
“Rasulullah SAW biasa
berangkat shalat ‘ied dengan berjalan kaki, begitu pula ketika pulang dengan berjalan
kaki”.(HR ibnu Majah 1077)
- Mengumandangkan
Takbir
Mengumandang takbir atau takbiran pada hari raya Idulfitri adalah sesuatu yang disyariatkan oleh agama. Ada dua pendapat dari ulama mengenai waktu dimulainya takbiran, yaitu dimulai sejak malam setelah magrib satu hari sebelum shalat Idul fitri dan saat pagi hari ketika menuju shalat Idul fitri. Berbeda halnya dengan Idul adha, kumandang takbir juga digemakan saat hari tasrik hingga 13 Dzulhijah. Pada Idul fitri, tidak ada lagi takbir setelah shalat selesai dilakukan.
Muhammadiyah sendiri
dalam situs resminya menjelaskan jika lafaz takbir Idul Fitri yang dipilih sesuai
dengan tuntunan Rasulullah SAW adalah lafadz takbir takbir Idul Fitri yang
disandarkan kepada Ibn Mas’ud, ‘Umar ibn al-Khattab, dan ‘Ali ibn Abi Thalib, sebagai
berikut: “Allahu akbar allahu akbar,
la ilaha illallah wallahu akbar alllahu akbar walillahil hamd”.
اللهُ أكبرُ اللهُ أكبرُ لا إلهَ إلا
اللهُ واللهُ أكبرُ اللهُ أكبرُ وللهِ الحمدُ
Artinya: “Allah
Maha Besar, Allah Maha Besar, Tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Maha Besar,
Allah Maha Besar, dan bagi Allah-lah segala puji”.
Ucapan Allahu Akbar
dalam takbir shalat Idul Fitri dalam redaksi hadist di atas jelas hanya
diucapkan dua kali, tidak tiga kali.( Kitab Irwaul Ghalil 3/125, Shahih, HR Ibnu
Abi Syaibah)

Tidak ada komentar: